Blog Valiance Dukung Ekosistem Bisnis via Data dan AI

Valiance Dukung Ekosistem Bisnis via Data dan AI

Maulana Maret 14, 2022 7 min read

Machine learning jadi landasan teknologi yang digunakan dalam pengambilan keputusan krusial di berbagai bidang industri saat ini.

Salah satu pemain penting yang telah berhasil mendemokratisasi adopsi data analytics dan machine learning selama beberapa tahun terakhir ini adalah AWS (Amazon Web Services).

Anthony Amni (Head of Mid-Market and Enterprise Greenfi, AWS Indonesia) mengatakan bahwa AWS sangat menyambut baik adopsi data analytics dan machine learning di berbagai industri.

Per tanggal 26 Januari lalu, Valiance hadir di tengah kita sebagai pembangun solusi untuk berbagai industri ini.

Dibuka oleh Badaruddin Motik (COO dan Co-Founder Valiance), Valiance diperkenalkan ke publik dan diresmikan dalam acara Valiance Grand Launching and Talk Show: Towards High Performing Organization with Data-Driven Culture.

Apa itu Valiance?

Didirikan oleh Adityo Sanjaya (CEO dan Co-Founder) dan Riyad Rivandi (CTO dan Co-Founder), Valiance adalah perusahaan konsultan machine learning yang dulunya merupakan divisi konsultan dari Pacmann–sebuah akademi penyedia program non-degree di bidang data, pioneer pembelajaran data di Indonesia–dan sekarang berdiri sendiri sebagai sebuah perusahaan resmi di lanskap bisnis Indonesia.

Valiance punya misi membangun ekosistem bisnis dan organisasi di Indonesia agar semakin produktif dan efisien melalui machine learning serta riset dan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Berada di bawah payung PT Algoritma Cerdas Indonesia, Valiance berfokus pada data science consulting dan product development berbasis AI (Artificial Intelligence).

Valiance sudah meluncurkan puluhan solusi berbasis machine learning serta ratusan model untuk diterapkan di berbagai jenis industri di Indonesia.

Apa yang Dilakukan Valiance?

Berdasarkan Survei Global McKinsey tahun 2017, perusahaan yang berhasil melakukan monetisasi data mengalami pertumbuhan pendapatan cukup signifikan dengan kontribusi terbesar berasal dari kemampuan memanfaatkan data dan analitik.

Adityo Sanjaya (CEO dan Co-Founder Valiance) mengatakan, “Sejak didirikan tahun 2017, kami melihat besarnya peluang dan kebutuhan perusahaan di Indonesia untuk melakukan transformasi digital dengan memanfaatkan teknologi berbasis machine learning, data science, dan artificial intelligence.”

“Kami percaya teknologi berperan besar dalam membantu perusahaan menjadi semakin efisien, efektif serta mampu bersaing. Data dari Kearney dan EDBI menyebutkan bahwa pemanfaatan AI mampu menambahkan GDP Indonesia sebesar 266 miliar dollar AS dan 1 triliun dollar AS untuk GDP Asia Tenggara hingga 2030. Sayangnya, penerapan AI di Indonesia masih tertinggal 2-3 tahun dibandingkan di Amerika Serikat dan Cina.” tutur Adit.

Sebagai perusahaan machine learning, Valiance memberikan solusi bisnis berbasis AI secara menyeluruh (end-to-end) yang merujuk pada research paper dan selalu melibatkan subject matter expert di bidang industri terkait di dalam proses bisnis yang ditanganinya.

Proses bisnis solusi ini mencakup:

  • analisis ketimpangan (gap analysis),
  • akuisisi dan konstruksi data (data acquisition and construction),
  • pengembangan model (model development),
  • implementasi infrastruktur Machine Learning (ML infrastructure implementation), hingga
  • evaluasi dampak solusi terhadap bisnis.

Adit merasa jengah mendapati pengambilan keputusan di perusahaan sering dilakukan berdasarkan intuisi.

Merasa hal ini tidak efektif apalagi ketika dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan krusial, Adit menawarkan solusi yang data-driven.

Melalui implementasi machine learning, hal inilah yang Valiance sediakan kepada klien.

“Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi tidaklah optimal. Nah, data-driven dapat menjadi sebuah kerangka kerja sebuah perusahaan untuk menurunkan business problem menjadi data problem, menguji hipotesis, lalu melakukan pengambilan keputusan berdasarkan data,” tutur Adit.

Bagaimana Valiance Jadi Solusi Bisnis?

Data dari McKinsey tahun 2020 menyebutkan bahwa pemimpin perusahaan yang berhasil mengadopsi AI tidak hanya mampu mendukung perusahaan mengalami performa pertumbuhan secara lebih baik, tetapi juga mendapatkan kepercayaan dari karyawannya.

Banyak perusahaan kini berjuang untuk menerapkan AI dalam skala besar. Secara global, bisnis menghabiskan $50 miliar untuk proyek kecerdasan buatan pada tahun 2020.

Namun, hanya 11% pengadopsi AI yang mendapat return on investment yang cukup besar atas investasi AI mereka.

Salah satu alasan umum untuk hasil yang tidak optimal tersebut adalah kegagalan untuk mendapatkan dukungan dari pemimpin bisnis di level C-Suite dan menskalakan inovasi AI di seluruh perusahaan.

Menurut Adit, perencanaan transformasi data dan teknologi perlu dipersiapkan dari hulu ke hilir secara terukur hasilnya.

Penting bagi perusahaan memiliki pemimpin yang berkomitmen penuh dan partner yang yang mampu memahami kebutuhan dan tantangan perusahaan kemudian mengembangkan solusi yang tepat dengan optimalisasi sumber daya yang tersedia.

Selain itu, perusahaan perlu membangun pola pikir berbasis data ke dalam budaya organisasi mereka.

Valiance menjalani proses detail dalam menilai kebutuhan klien dan membangun solusi machine learning-nya.

Sebagai bentuk transparansi, pihak Valiance selalu menginformasikan kepada klien tentang tingkat kerumitan selama proses perumusan masalah sampai dengan penentuan solusi, termasuk dependensi infrastruktur, serta ekosistem yang terkait di dalamnya.

Riyad Rivandi (CTO dan Co-Founder Valiance), mengatakan bahwa pengerjaan solusi bisnis di Valiance berlangsung secara efisien berkat penggunaan internal tools yang mereka kembangan untuk proses automatic machine learning (AutoML).

“Selain itu, kami berpengalaman membangun infrastruktur Machine Learning Ops (MLOps) baik cloud maupun on-premise sesuai dengan kondisi perusahaan,” kata Riyad.

Riyad juga menegaskan bahwa solusi berbasis machine learning dari Valiance mampu menyelesaikan permasalah bisnis klien, terutama dalam hal efisiensi waktu dan untuk tugas-tugas yang sifatnya repetitif.

Hal ini dapat membantu menekan potensi kerugian biaya dan sumber daya lain sampai dengan memprediksi potensi risiko yang ada ke depannya.

Melalui pendekatan ini, Valiance berpengalaman menangani dan terbukti memberikan solusi dengan 100% delivery rate di berbagai industri, mulai dari:

  • keuangan dan perbankan,
  • distribusi dan logistik,
  • procurement,
  • media,
  • retail,
  • pariwisata,
  • agrikultur, sampai dengan
  • otomotif.

Selain itu, Valiance juga punya latar belakang klien yang berupa perusahaan swasta, BUMN, dan kementerian/lembaga pemerintah.

“Meskipun Valiance masih tergolong berusia muda, hingga saat ini, kami telah merancang puluhan layanan machine learning dengan pemanfaatan AI dan ratusan model software di berbagai industri di Indonesia. Valiance menyediakan solusi end-to-end machine learning yang didukung oleh praktik MLOps yang kuat, cloud, dan on-premise,” kata Riyad.

Study Case

Dengan pemanfaatan AI, menurut Riyad, beberapa pengguna Valiance berhasil melakukan mitigasi risiko, melakukan optimasi dan efisiensi tenaga serta biaya, dan mencegah kebocoran dana.

Contohnya, salah satu perusahaan retail di Indonesia yang berhasil mencegah 25% transaksi palsu melalui teknologi fraud detection dari Valiance.

Contoh solusi machine learning lain yang telah dibangun oleh Valiance adalah pengerjaan credit scoring yang mampu memprediksi 50 persen Non Performing Loan (NPL) pada suatu lembaga keuangan mikro.

Solusi ini mendeteksi risiko kredit pemohon dan merekomendasikan analisis untuk menolak permohonan dengan potensi gagal bayar tinggi, disertai dengan evaluasi berkala. Menghindari pihak penyedia rugi ratusan miliar.

“Nilai NPL-nya ini setara dengan potensi kerugian Rp 100 miliar,” ujar Riyad pada acara diskusi virtual panelis tentang data-driven culture, 26 Januari lalu.

Sejalan dengan ini, Valiance juga meningkatkan potensi pendapatan lembaga keuangan tersebut sampai dengan 10%.

Selain itu, salah satu perusahaan manufaktur internasional di Indonesia juga berhasil meningkatkan ketersediaan pasokan mobil sebesar 20% di saluran distribusi agregat dan mencegah hilangnya calon pembeli sebesar 10% di seluruh dealer perusahaan tersebut dengan memanfaatkan teknologi AI dari Valiance.

Pemanfaatan data analitik dan AI memiliki potensi keuntungan yang jauh lebih luas. Hal ini sudah dibuktikan oleh Amazon dengan tagline-nya “make better decisions, faster”, terkenal dengan pemanfaatan data dan analitik yang kuat dan berdampak di berbagai aspek bisnis mereka.

Salah satu pemanfaatan data dan analitik yang berdampak langsung pada kinerja penjualan Amazon adalah teknologi product recommendation system.

Teknologi rekomendasi Amazon didasarkan pada pemfilteran kolaboratif, yang berarti teknologi ini memutuskan apa yang Anda inginkan dengan membangun gambaran tentang siapa Anda, lalu menawarkan produk yang telah dibeli oleh orang-orang dengan profil serupa.

Selain hal yang telah dijelaskan di atas, Valiance juga punya dokumentasi portofolio yang ditampilkan di halaman website perusahaan.

Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan non-digital yang juga mengadopsi fondasi data analytics dan machine learning, peran Valiance dirasa akan jadi lebih besar dalam menghadirkan solusi bisnis berbasis AI terutama untuk pasar di Indonesia.

Cari tahu tentang Valiance di situs resminya.