Blog Tantangan Lulusan MBA di Tech Industry

Tantangan Lulusan MBA di Tech Industry

Alivia Rayneta Yuniar April 9, 2022 7 min read

Terlepas dari prestise lulusan MBA, ternyata tetap ada tantangan yang dihadapi lulusan MBA terutama di tech industry yang berkembang kian cepat saat ini.

Hingga saat ini, gelar MBA masih menjadi cita-cita yang dikejar banyak orang. Hal tersebut ditunjukkan dari kestabilan peningkatan jumlah lulusan MBA setiap tahunnya.

Peningkatan stabil jumlah mahasiswa MBA di dunia

Semakin banyaknya lulusan MBA membawa pertanyaan baru bagi mereka yang akan melanjutkan karier.

Bagaimana satu lulusan MBA bisa lebih menonjol dari lulusan lainnya?

Bagaimana satu lulusan MBA bisa menarik minat perusahaan di antara banyak lulusan MBA lainnya?

Dua pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi mereka yang sedang mengejar kariernya—di saat disrupsi digital semakin masif terjadi.

Transformasi Industri Teknologi

Teknologi akan tetap menjadi pusat tentang bagaimana proses bisnis berkembang dan berubah. Transformasi teknologi yang kecepatan dan keluasannya tidak dapat diprediksi ini selanjutnya berkesinambungan dengan perubahan model bisnis baru yang terus disesuaikan.

The Future of Jobs Report 2020 menunjukkan adanya pergeseran prospek pekerjaan dengan keterampilan adopsi teknologi setidaknya dalam jangkauan lima tahun ke depan. Gangguan-gangguan tidak terduga, seperti pandemi, juga turut mendorong disrupsi digital ke berbagai jenjang aktivitas bisnis.

Kondisi ini mendorong terjadinya transformasi besar antara cara kerja bisnis dulu dan sekarang. Manajemen tidak terbatas pada apa yang tertera di buku—mengatur segala hal agar orang dapat bekerja dan perusahaan memperoleh keuntungan.

Sektor industri membutuhkan kandidat potensial dengan tingkat manajerial tinggi yang bisa terus relevan pada segala perubahan, termasuk perubahan industri teknologi.

Tantangan Lulusan MBA di Dunia Kerja

Magister Business Administration (MBA) adalah program untuk mempersiapkan kompetensi fungsional bisnis, akuntansi dan keuangan, pemasaran dan manajemen, pengambilan keputusan strategis, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan bisnis dan kemasyarakatan.

Ekspektasi perusahaan terhadap kompetensi lulusan MBA cukup bervariasi, di antaranya yang paling dominan adalah interpersonal, leadership, decision making, dan strategic skill.

Most Important Skills for MBA Graduates

Namun, pada abad ke-21, khususnya paruh kedua saat transformasi global terjadi, para lulusan MBA juga didorong untuk kompeten dalam mengelola transformasi digital perusahaan sekaligus memanfaatkan kekuatan AI dalam proses bisnis.

Implikasi praktis pengalaman bisnis menunjukkan adanya kebutuhan kuat bagi program MBA dan lulusan MBA untuk mengintegrasikan keterampilan manajemen dan administrasi tradisional dengan pengalaman dan keterampilan yang relevan untuk dunia kerja saat ini.

Kemajuan pesat industri teknologi dan proses bisnis mengguncang masa depan lulusan MBA untuk tetap relevan di masa disrupsi digital.

Tantangan terbesar yang muncul adalah menghasilkan manajer yang mampu memenuhi ekspektasi perusahaan dan potensial untuk bertahan dalam kemajuan industri.

Gap Program MBA dengan Kebutuhan Lulusan MBA

Berakar dari tantangan lulusan MBA untuk tampil optimal, ekspansi program MBA perlu memperhatikan kesenjangan yang terjadi antara kebutuhan dan bekal kemampuan yang ada.

Sejumlah sekolah bisnis terkemuka, seperti Harvard Business School, INSEAD, dan Yale School of Management, telah memulai serangkaian inisiatif perubahan agar relevansi program MBA pada realitas bisnis dapat seimbang.

Rangkaian perubahan dilakukan dengan melihat atensi kesenjangan kebutuhan yang tidak terpenuhi dari program MBA berikut:

  1. Pemahaman perspektif global: Mengidentifikasi, menganalisis, dan mempraktikkan cara terbaik manajemen ketika menghadapi perbedaan ekonomi, kelembagaan, dan budaya.
  2. Pengembangan keterampilan kepemimpinan: Mengembangkan pendekatan alternatif tentang cara menginspirasi, memengaruhi, dan membimbing orang lain; mempelajari keterampilan memberi umpan balik kritis dan identifikasi dampak.
  3. Pengembangan keterampilan integrasi: Mengidentifikasi masalah secara holistik; membuat keputusan berdasarkan perspektif fungsional dan membangun intuisi ke dalam situasi yang tidak terstruktur.
  4. Pengenalan realitas organisasi: Memahami konteks, agenda, aturan tidak tertulis, dan membandingkan berbagai sudut pandang.
  5. Kreativitas dan inovasi: Menemukan dan membingkai masalah; mengumpulkan, menyintesis, dan menyaring data besar dan tidak terstruktur; terus bereksperimen dan belajar.
  6. Komunikasi dan berpikir kritis: Mengembangkan dan mengartikulasikan argumen yang logis, koheren, dan persuasif; membedakan fakta dari opini dengan bukti pendukung.
  7. Pemahaman peran, tanggung jawab, dan tujuan bisnis: Menyeimbangkan berbagai tujuan dan tuntutan dari berbagai konstituen, seperti pemegang saham, karyawan, pelanggan, regulator, dan masyarakat.
  8. Memahami batasan model dan pasar: Mempertimbangkan risiko dengan mempertanyakan asumsi dan pola yang muncul; memahami sumber kesalahan; memahami ketegangan regulasi dan insentif untuk mendorong inovasi dan efisiensi.

Pembenahan Kerangka Belajar Program MBA

Pendidikan MBA sedang berupaya menyelaraskan kebutuhan perusahaan yang terus berubah. Kesiapan program MBA menghadapi kemajuan industri teknologi perlu ditelaah pada tiap kerangka pembelajaran yang ada.

Harvard Business Review menjabarkan perubahan apa yang program MBA perlu elaborasi lebih lanjut untuk bisa relevan dengan perkembangan bisnis terkini.

1. Corporate Finance

Kerangka belajar baru diperlukan untuk menentukan basis aset nyata perusahaan dengan memasukkan aset lunak–brand, first-mover advantage, teknologi informasi, talent, dan strategi kompetitif–ke dalam perhitungan keuangan.

Model valuasi baru yang menggabungkan karakteristik terkini perusahaan akan meningkatkan return portofolio serta penetapan harga merger dan akuisisi.

2. Marketing

Pada saat ini, layanan informasi diproduksi secara instan, didistribusikan melalui internet, dan dikonsumsi pengguna baik secara gratis, atau dengan membayar biaya berlangganan.

Selain ilmu marketing tradisional, marketer saat ini perlu memiliki keterampilan teknologi informasi, data science, dan econometrics.

Mereka memerlukan pengetahuan komprehensif seputar analisis pelanggan, mulai dari pengalaman browsing pelanggan, hingga kalkulasi CLV (Customer Lifetime Value) untuk perusahaan.

3. Products and Operations Management

Manajemen produk dan operasional secara tradisional berfokus pada pemanfaatan tenaga kerja dan mesin yang efisien untuk menghasilkan barang fisik; campuran bahan baku yang optimal, perencanaan inventaris, dan pergerakan barang yang lancar.

Namun pada saat ini, manajemen produk dan operasional di tech industry telah bergeser menghasilkan produk digital berbentuk software atau konten yang turut menjamur di masa disrupsi digital.

Perusahaan saat ini membutuhkan seseorang dengan keahlian manajerial sekaligus pemahaman mumpuni terkait produk digital dan sistem operasinya.

4. Human Resources

Saat ini ide, keterampilan, dan bakat manusia adalah inti dari proses menciptakan value.

Pengetahuan seorang karyawan tumbuh selama mereka bekerja di perusahaan. Kemudian, pengalaman tersebut berpotensi digunakan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik atau untuk memulai usaha bisnis baru.

Perekrutan seorang karyawan lebih seperti seorang yang ingin meningkatkan nilai dan modal pengetahuan mereka sebelum menjadi pengusaha. Oleh karena itu, kerangka pembelajaran baru yang muncul adalah bagaimana mengelola karyawan ini menjadi mitra bisnis—bukan sekadar pekerja yang direkrut.

5. Accounting

Saat ini, akuntansi harus mempertimbangkan investasi dengan orientasi masa depan. Arah masa depan akuntansi ini termasuk penggunaan blockchain untuk pencatatan dan verifikasi transaksi secara instan.

Manajerial akuntansi memerlukan kerangka belajar baru untuk menentukan bagian mana dari biaya perusahaan digital yang diperlukan untuk mendukung operasi saat ini dan bagian mana yang diperlukan untuk meningkatkan nilai masa depan perusahaan.

Upgrade Kemampuan di Non-Degree Program MBA in Tech

Relevansi kurikulum dengan kebutuhan stakeholder selalu menjadi komponen penting untuk ditinjau dan dijamin kualitas pelaksanaannya.

Pacmann sendiri punya program MBA-nya sendiri (Non-Degree Program MBA in Tech). Program ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan industri teknologi dan menjadi sangat relevan pada perkembangan kebutuhan industri.

Ketika seseorang dengan gelar lulusan MBA bisa lebih ‘cakap’ menghadapi perkembangan industri teknologi dan mengeksplor kemampuannya untuk memenuhi ekspektasi perusahaan, mereka telah memiliki bekal mumpuni untuk kompetitif di dunia kerja.

MBA in Tech dirancang dengan berbagai penyesuaian kebutuhan pasar, yaitu semakin dibutuhkannya tenaga kerja yang dapat memberikan performa problem-solving berbasis data, decision-making berbasis data, berpikir dan membuat keputusan strategis, hingga kemampuan interpersonal, komunikasi, dan leadership.

Diharapkan lulusan Non-Degree Program MBA in Tech akan punya skill set yang sama dengan lulusan MBA tradisional dengan fokus utama di tech industry, dan siap akan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para lulusan MBA.

Program Non-Degree MBA in Tech dari Pacmann Academy

Pacmann Academy menyediakan paket materi lengkap MBA in Tech yang sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan manajemen dan administrasi untuk berkarir di industri teknologi.

Menjadi yang pertama di Indonesia, MBA in Tech Pacmann memberikan solusi yang menjembatani kompetensi yang diharapkan user dengan kompetensi yang diekspektasikan industri dengan 12 kurikulum yang siap mengantarkan kamu pada karier sebagai seorang MBA in Tech.

Cek lebih lanjut Non-Degree Program of MBA in Tech dari Pacmann!

Further reading:

Balakrishnan, A., Srikant Datar, David Garvin, and Patrick Cullen. 2010. Rethinking the MBA, Business Education at a Crossroads. Journal of Human Values. Vol. 16, No. 2.