Blog 5 Human Skill Wajib Praktisi Digital Workplace

5 Human Skill Wajib Praktisi Digital Workplace

Alivia Rayneta Yuniar April 5, 2022 7 min read

Pengembangan human skill dalam digital workplace dicanangkan sebagai kunci untuk mengangkat efisiensi proses bisnis sekaligus membenahi disrupsi ganda akibat pandemi dan digitalisasi.

Perkembangan digitalisasi dan otomatisasi, dibarengi oleh kondisi tak terduga pandemi covid, mendorong banyak orang untuk bekerja secara jarak jauh dan memanfaatkan banyak teknologi pendukung.

Lingkungan kerja menjadi serba digital, pekerja dapat terhubung tanpa adanya batas fisik dan lokasi kerja. Lanskap pekerjaan turut berubah dan mengharuskan pekerja untuk berkolaborasi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pentingnya efisiensi kerja yang diimbangi dengan pemanfaatan teknologi kini menjadi fokus utama berbagai organisasi. Proses bisnis yang berjalan produktif dan efisien di tengah pergeseran sistem kerja menjadi tantangan baru organisasi memasuki era digital workplace.

Apa itu Digital Workplace?

Ruang kerja digital atau disebut dengan istilah digital workplace—mengacu pada rangkaian luas teknologi yang saling terhubung dan dimanfaatkan langsung oleh pekerja untuk melaksanakan aktivitas pekerjaannya, baik yang sedang beroperasi maupun yang belum terimplementasi.

Konsep integratif ini menjangkau seluruh sistem kerja organisasi yang dalam operasionalnya menunjukkan kemajuan penggunaan teknologi. Maka dari itu, perkembangan proses kerja dalam digital workplace selanjutnya berdampak langsung pada identitas dan pola hubungan dalam organisasi.

Kesiapan Bekerja di Era Digital Workplace

Merefleksi pergeseran proses dan pengalaman kerja, organisasi membutuhkan pembenahan mengikuti perkembangan digital workplace. Namun dalam praktiknya, kerap kali ditemukan berbagai kendala yang dapat menghambat implementasi efektif cara kerja baru digital workplace.

Hasil komparasi 194 studi terkait digital workplace menunjukkan bahwa kendala kerja paling dominan merujuk pada technology-related stress atau technostress.

Stres yang bersinggungan dengan teknologi berpotensi terjadi pada tiap individu di era digital workplace, mulai dari tumpukan beban kerja, interupsi dan distraksi, invasi kehidupan non-kerja, hingga tekanan akibat kecepatan proses kerja digital.

Selain itu, kendala proses kerja kolektif dalam tim juga masih membutuhkan jalan tengah penyelesaian. Di antaranya yaitu renggangnya keterikatan tim akibat komunikasi online dan minim tatap muka, atau hal spesifik seperti kesulitan untuk “switch off” dari aktivitas online dan kesulitan penyesuaian pekerja baru selama masa onboarding.

Digital workplace meruntuhkan kekakuan operasional kerja—memposisikan pekerja untuk mengintegrasikan teknologi dan keterampilan diri untuk memaksimalkan pengalaman kerja digital.

Konseptualisasi Human Skill dalam Digital Workplace

Sering kita dengar bahwa keterampilan manusia atau human skill menjadi komponen penting optimalisasi kinerja. Pola kerja yang berubah juga semakin mendorong pentingnya pengembangan human skill.

Human skill adalah kemampuan untuk bekerja secara efektif sebagai anggota tim dan membangun upaya kooperatif dalam tim. Kemampuan ini dapat membangun pekerja yang semakin adaptif, inklusif, dan fasih menggunakan teknologi.

Gagasan bahwa skill sangat penting untuk masa depan saat ini menjadi semakin nyata. Pengaturan kerja yang berubah semakin memperkuat potensi masalah relasional—karena semua orang mencoba beradaptasi dengan perubahan yang cukup dramatis.

Orientasi digital workplace berputar pada keterampilan pekerja untuk berkolaborasi, berkomunikasi, dan terhubung dengan orang lain. Para pekerja didorong untuk saling terhubung tanpa batasan fisik dan konsep pembentukan human skill masuk sebagai referensi utama efektivitas kerja di era digital workplace.

5 Human Skills yang Dibutuhkan Setiap Praktisi Digital Workplace

Tenaga kerja yang terampil adalah pondasi utama organisasi yang melakukan transformasi digital. Dikutip dari Harvard Business, terdapat 5 skill yang dibutuhkan tenaga kerja dalam digital workplace—empathy, communication, adaptability, coaching/leadership, dan trust building.

Empathy

Empati melibatkan kepedulian yang tulus serta kemampuan untuk memahami situasi dan perspektif orang lain. Terlihat sederhana, namun perlu dipahami bahwa komponen ini menjadi bagian penting dalam ketahanan relasional jangka panjang.

Pada masa transisi cara kerja yang intens, potensi adanya gesekan dan konflik sangat mungkin terjadi.

Maka dari itu, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain menjadi lebih diperlukan dalam digital workplace.

Empati perlu dibangun untuk meredam berbagai jenis stres yang sangat mungkin muncul.

Pekerja dapat membangun dan menunjukkan empati setidaknya dalam dua cara, yaitu mempertimbangkan pikiran orang lain dalam empati kognitif dan mempertimbangkan perasaan orang lain dalam empati emosional.

Penerapan empati harus dapat diungkapkan secara langsung dan membutuhkan keterampilan komunikasi interpersonal—mengarah pada penjelasan skill berikutnya.

Communication

Komunikasi mengacu pada tindakan pertukaran informasi yang melibatkan komunikasi individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan sebaliknya.

Aktivitas bekerja dalam digital workplace memerlukan perhatian ekstra dalam keterampilan komunikasi. Ada kebutuhan untuk menyusun ulang tentang bagaimana komunikasi tanpa ruang fisik dapat berjalan efektif.

Ketika komunikasi digital telah masuk sebagai sumber interaksi kerja, pekerja didorong untuk memanfaatkan berbagai alat dan mode komunikasi baru sekaligus membangun keterampilan komunikasi baru untuk penyesuaian.

Mempertahankan keterampilan komunikasi yang efektif dalam ruang online dapat dilakukan dengan memperhatikan poin-poin berikut:

  • Berlatih menjadi pendengar aktif.
  • Membingkai ulang apa yang telah disampaikan untuk memperjelas makna.
  • Menajamkan perhatian pada bahasa tubuh.
  • Menegaskan poin-poin yang ingin sampaikan.

Adaptability

Strategi dalam menanggapi perubahan turut berubah seiring transisi cara kerja dalam digital workplace. Hadirnya tantangan baru mengharuskan pekerja untuk mengasah kemampuan untuk memantau, mempertahankan, dan menyesuaikan cara kerja sesuai dengan tuntutan sistem kerja digital.

Kemampuan untuk beradaptasi secara emosional dan sosial kini menjadi kunci pengelolaan pribadi yang tanggap akan perubahan. Secara general, Adaptasi adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan di lingkungannya.

Praktik kemampuan adaptasi dibutuhkan untuk setiap keadaan, khususnya dalam membangun hubungan kerja semulus mungkin. Kemampuan adaptasi juga dapat menstimulasi pekerja untuk terbuka akan ide dan inovasi sehingga produktivitas kerja dapat berjalan lebih optimal.

Digital workplace menjunjung fleksibilitas kerja sehingga keterampilan ini menjadi penting untuk menjaga keoptimisan dalam mengatasi tantangan tak terduga.

Coaching and Leadership

Menciptakan budaya kepemimpinan yang sesuai akan membantu menumbuhkan lingkungan kerja yang sehat, terlepas dari bagaimana anggota tim dapat terhubung.

Efektivitas digital workplace bisa terbangun ketika seorang pemimpin mengakui peran transformasional dapat dimainkan oleh teknologi, yang selanjutnya dapat mendukung pengembangan organisasi mereka.

US National Research Council menyebutkan domain keterampilan interpersonal harus dimiliki pekerja pada abad ke-21. Keterampilan ini perlu diasah seiring perkembangan sistem kerja, termasuk di dalamnya kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan.

Ketiga kemampuan tersebut bersumber langsung dari bagaimana kecakapan seorang pemimpin dalam merespons digital workplace. Seorang pemimpin harus memegang setidaknya tiga label kemampuan—memahami perkembangan digitalisasi, menempatkan tim sesuai konteks digitalisasi, dan memimpin perubahan.

Pemimpin perlu mengembangkan kemampuan pembinaannya, termasuk kecakapan dalam memberdayakan anggota hingga membimbing rencana aksi. Selain itu, seorang pemimpin juga harus selalu hadir untuk memantau perkembangan anggotanya, sampai pada titik di mana mereka merasa didukung di tiap proses pertumbuhannya dalam digital workplace.

Trust Building

Kepercayaan menjadi hal mendasar yang penting untuk dibangun sejak awal melakukan aktivitas dalam tim. Ketika seseorang berada dalam lingkungan tim yang dapat membuatnya merasa aman, mereka akan memiliki kecenderungan untuk menunjukkan performa terbaik mereka.

Perubahan sistem kerja dalam digital workplace memerlukan pembentukan kepercayaan yang kuat, seiring peningkatan kebutuhan tindakan kolaboratif.

Tidak mudah bagi tim, khususnya pemimpin untuk menciptakan lingkungan kerja dengan kepercayaan dan kolaborasi yang kuat. Pemimpin dapat memulai membentuk kepercayaan dengan menjadi otentik, jujur, transparan, dan empatik.

Ketika kepercayaan ditantang dan diuji oleh transformasi digital workplace, hubungan interpersonal yang penuh kepercayaan dapat menjadi aset yang penting di tempat kerja.

Meluasnya penggunaan teknologi menawarkan produktivitas dan efisiensi di titik paling optimal dalam lingkungan kerja. Perlu menjadi catatan penting bahwa kemajuan ini juga akan mengubah cara kerja dalam suatu organisasi. Prevalensi teknologi dapat memengaruhi pengembangan penggunaan alat, mode komunikasi, hingga pola hubungan kerja dalam tim.

Kemampuan untuk memaksimalkan keterampilan interpersonal secara kritis dan emosional dapat menumbuhkan keseimbangan adaptasi sistem kerja dan produktivitas.

Ingin mengasah lebih dalam keterampilan personal-mu dalam bekerja? Akselerasikan kesiapanmu untuk bersaing di digital workplace dengan mengikuti program MBA in Tech (business communication, interpersonal skills, dan leadership) dari Pacmann.