Blog Cerita Pengalaman Student yang Belajar di Pacmann

Cerita Pengalaman Student yang Belajar di Pacmann

Maulana Juli 6, 2022 7 min read

Tim konten Pacmann berkesempatan untuk ngobrol dengan tiga students Pacmann yang mengikuti program Pacmann–baik itu non-degree maupun mini progarm.

Mereka bercerita tentang alasan memilih Pacmann sebagai tempat belajar data, pengalaman selama belajar, manfaat dan insight yang didapat selama belajar, dan masih banyak lagi.

Yuk, simak ceritanya!

Bisa diceritakan, kenapa mau belajar data?

Jeffri Ivander

Jadi, alasannya untuk belajar data karena sebenarnya skill menguasai data dan mencari insight itu investment yang sangat baik dalam berkarir dan dalam bisnis juga.

Sebenarnya dari dulu gua juga seneng untuk ngotak-ngatik data, suka statistik juga.

Hadi Kamil

Jadi, saya lulusan IT. Sekarang saya lagi berminat di bisnis, karena relate juga dengan pekerjaan saat ini.

Terus, saya merasa butuh ilmu baru. Tidak hanya ilmu yang saya peroleh dari lapangan, saya juga ngulik ilmu dari course dan dari hal-hal yang belum pernah saya eksplor sebelumnya.

Saya senang ikut kelas tentang bisnis.

Dimas Suryadiyanto

Background saya finance, tapi terjun ke digital marketing saat pertama kali kerja sampai dengan sekarang.

Tertarik di bidang data itu saat awal-awal pandemi.

Saya berpikir, apa sih yang bisa meningkatkan skill saya dan bisa align dengan yang sudah saya punya, yaitu digital marketing.

Saya mencari-cari, apa sih hubungan antara data dengan digital marketing?

Saya mengikuti seminar dan workshop tentang digital marketing dan data science. Setelah saya ikuti, kedua bidang ini tuh ternyata berdekatan dan ada kaitannya.

Saya juga menyadari, hampir setiap hari pekerjaan saya di digital marketing itu menggunakan data.

Saat itu saya menggunakan spreadsheet dan menganalisis data dari channel dan konten yang saya publish di media sosial.

Dari situ, saya mulai mengenal dunia data.

Terus, ketika ditarik lagi ke belakang, saya juga menikmati proses menganalisis data website dari Google Data Analytics.

Mulai dari membuat dashboard, visualisasi, dll., dan itu semua saya pelajari secara otodidak dan semuanya hasil eksplor sendiri.

Kenapa memilih belajar di Pacmann?

Jeffri Ivander

Gua mencari tempat belajar yang menawarkan fleksibilitas dan kualitas.

Jadi, dari situ ketemu. Oh iya Pacmann nih!

Tidak hanya menawarkan quality, tapi juga flexibility.

Pacmann juga punya Discourse, ditambah bisa belajar dari recording-nya.

Hadi Kamil

Saya lagi giat belajar dan berencana kuliah S2. Terus ketemu tentang yang namanya Mini MBA.

Tidak lama setelah itu, saya ketemu iklan Pacmann.

Konten iklannya menarik, terus saya baca lebih lanjut dan jadi tahu tentang Mini MBA in Tech Pacmann.

Dimas Suryadiyanto

Persiapan bertemu dengan kesempatan.

Kebetulan waktu itu ada rezeki untuk menambah ilmu baru dan ingin serius belajar data science.

Saya juga compare dengan bootcamp lain, namun yang paling saya highlight dari Pacmann adalah materi dan durasi belajar.

Hal yang saya lihat dari Pacmann, secara durasi lebih masuk akal. Sedangkan di bootcamp lain itu hanya tiga, empat, atau enam bulan.

Saya merasa, itu hal yang mustahil–untuk menyerap ilmu baru yang sulit dengan durasi sesingkat itu. Proses belajarnya pasti lebih panjang.

Saya juga highlight silabus Pacmann itu punya materi econometrics.

Terus saya diskusi dengan Adit (CEO Pacmann), kita setuju kalau materi ini tidak ada di bootcamp lain, dan saya memutuskan untuk gabung belajar di Pacmann.

Apa tantangan belajar data yang dihadapi selama ini?

Jeffri Ivander

Nah, tantangan sulit dalam belajar data itu adalah konsistensi.

Seperti yang kita temukan ketika belajar apa pun pada umumnya ya.

Jadi pasti ada hal yang kita gak ngerti, ya itu yang memang harus di-overcome.

Terlebih lagi, kebetulan juga gua gak punya knowledge apa-apa nih mengenai data science.

Hadi Kamil

Challenge-nya adalah manajemen waktu, agak sulit memang.

Di Mini MBA in Tech ini kita selalu dapat tugas, dan tugasnya tidak bisa selesai dalam satu-dua jam–butuh riset.

Kebanyakan juga tugas kelompok, nah, untuk bagi waktu dan mencocokkan jadwal dengan teman-teman lain itu jadi tantangan tersendiri.

Dimas Suryadiyanto

Tantangannya utamanya bukan di coding, tapi di waktu.

Selain saya full-timer, saya juga sudah berkeluarga. Harus pintar cari waku.

Intinya, disempatkan saja meskipun hanya setengah jam sehari.

Hal yang paling penting adalah, kita belajar.

Coding juga sebenarnya adalah tantangan, saya juga background-nya bukan di STEM.

Prinsip saya untuk tackle challenge ini adalah bisa karena terbiasa.

Jadi hajar aja, belajar aja, yang penting ada progresnya.

Bagaimana kesannya belajar di Pacmann?

Jeffri Ivander

Penyampaian materi konsisten

Di Pacmann itu pemberian materinya konsisten, cara penyampaiannya juga konsisten, kualitasnya konsisten, responsiveness di Discourse-nya juga konsisten.

Juga dibukakan kesempatan untuk asistensi, jadi sangat-sangat men-support siswanya sih.

Fleksibel dan tersedia video on-demand

Dengan jadwal yang tiap minggu konsisten itu, Pacmann juga menyediakan recording.

Karena ada recording, jadi gampang untuk konsisten meskipun bisa fleksibel.

Ramah bagi pemula yang ingin belajar data namun diajarkan secara mendalam.

Sebagai orang yang newbie, gua rasa untuk join belajar di Pacmann itu sangat-sangat membantu sih.

Hadi Kamil

Ilmunya praktikal dan jadi dibiasakan brainstorming

Kesannya adalah, banyak kelas yang dirasa mudah, namun ketika mengerjakan tugas, malah jadi susah. Begitu juga sebaliknya.

Jadi, jika ditanya kelas atau materi favorit saya yang mana, itu tidak menentu.

Intinya, harus kuat brainstorming dengan tim.

Semua materi juga sangat berpengaruh untuk meningkakan soft skill kita, karena langsung di-apply di day-to-day belajar di Pacmann.

Saya juga punya tim yang percaya kepada saya untuk saya pimpin.

Semua ini membantu saya untuk belajar jadi leader yang lebih baik.

Ilmunya praktikal dan diajarkan langsung oleh praktisi.

Mentornya bukan sekadar akademisi, mereka beneran praktisi.

Nah, yang kita butuh kan bukan hanya ilmu teorinya, namun juga hal-hal praktikalnya.

Ini yang membuat saya tidak menyesal belajar di Pacmann.

Untuk teman-teman yang ingin belajar tentang bisnis, saya sangat menyarankan belajar di Pacmann.

Dimas Suryadiyanto

Puas belajar untuk enhance skill

Prinsip saya untuk belajar data science ini memang untuk enhance skill dan karier.

Saya merasa data science dan digital marketing ini akan semakin relevan ke depan.

Ketika sudah tiba masanya, minimal saya sudah punya basic knowledge di data science. Ditambah pengalaman saya di digital marketing, skill saya jadi lebih lengkap.

Mempersiapkan diri untuk posisi pekerjaan di masa depan

Mungkin nanti akan ada posisi yang relevan yang dibangun dari digital marketing dan data science, tapi sejauh ini di Indonesia belum ada.

Ini juga jadi bahan diskusi saya dengan Adit (CEO Pacmann).

Bagaimana supaya terus termotivasi untuk belajar?

Dimas Suryadiyanto

Ingat lagi tujuan untuk belajar data science itu apa.

Mengutip dari Atomic Habit, di buku itu dijelaskan “Slow progress is better than no progress at all”.

Di Pacmann, disarankan belajar sehari itu minimal dua jam. Itu bare minimum.

Tapi kalau memang tidak bisa dua jam, ya sejam, setengah jam, atau bahkan lima belas menit.

Kalau belum sempat belajar materi baru, re-run dulu materi yang sudah pernah dibawakan di kelas.

Bangun progres belajarnya.

Perjalanan belajar di Pacmann itu jauh, jadi nikmati prosesnya.

#SeekMastery Bersama Pacmann

Itu dia cerita pengalaman student Pacmann.

Siap untuk belajar data di Pacmann?

Pacmann menyediakan beberapa program data dan bisnis yang bisa kamu ikuti, terlepas apa pun background kamu.

Di Pacmann, kamu akan belajar secara mendalam tentang data dan bisnis.

Cek seluruh program Pacmann di halaman ini.

Kalau masih bingung, kamu bisa tanya-tanya ke Pacmin via DM Twitter atau langsung hubungi via WhatsApp!